Selasa, 05 Oktober 2021

Kuburan yang Ditelan, Rumah yang Runtuh

 

Kuburan yang ditelan, Rumah yang Runtuh

Rianti Devi Candra

 

Kamu tidak tahu berapa windu sudah ku habis ku telan

Tentang rindu yang ku tenggelamkan di wajah rembulan

Tempat yang dulu ku sebut rumah, kini sudah runtuh

Dan sekarang jadilah aku sang tunawisma yang tertatih

Tertatih untuk belajar berdiri diatas kuburan hati atas nama kita

Tega sekali kamu tuan, sudah terbaring mati dan Ketika aku hampir mati jua

Malah kau selamatkan aku dengan memberi nafas terakhir yang sia-sia

Tak tahu kah kamu kini aku merupakan puan yang tak bernyawa?

Tak tahu kah kamu kini aku perlahan mati berkali-kali?

Berlutut di bawah hujan mengadah pada langit untuk sekali saja iba

Mencintaimu merupakan resiko purna atas hidup dan matinya hati yang terlahir setia

Kamu tidak tahu, puan yang pernah kamu cintai ini dahulunya adalah lidah pembohong yang hebat

Tapi sejak bertemu denganmu, karena aku tahu kamulah orangnya. Aku rencakan nubuat

Berjanji dan bersumpah di bawah guratan langit, dengan warna kesukaan kita, untuk aku mencintaimu

Setulus kerang menjaga, sekuat gua yang menganga, serimbun surga

Sampai kau sendiri yang berlisan bahwa aku pembohong yang buruk

Sampai kau pergi dan membuat aku terjatuh. Terjerembab. Tertatih. Terpuruk.

Tidak terhitung sayatan yang tercipta sejak saat itu, dan aku bersumpah atas nama candra, sang rembulan

Bahwa aku akan bangkit, dari kuburanku sendiri yang terlihat sakit

Lalu, ku kira aku bertemu rumah

Ku kira aku akan diizinkan untuk setidaknya berteduh

Dari luka menganga yang sedang ku jahit dengan jarum rajut

Dari darah yang terjun bebas pun lahir perasaan tulus padamu

Kau kira aku seperti puan lain yang tidak akan terluka jika terpaksa berucap pisah setelah temu?

Perlukah aku tunjukkan padamu robekan hati dari gumpalan rasa yang ku rawat?

Tak apa, jika semesta berkata kamu adalah rumahku, aku akan ditarik Kembali dengan darurat

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar